Rabu, 04 November 2015

Perjalanan mencari Dhamma

Berjalan dalam Langkah Buddha
Mangala Sutta

Demikianlah telah kudengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menetap di dekat Savatthi, di hutan Jeta di Vihara Anathapindika.

Maka datanglah dewa, ketika hari menjelang pagi, dengan cahaya yang cemerlang menerangi seluruh hutan Jeta.

Menghampiri Sang Bhagava dan menghormati Beliau, lalu berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di satu sisi, dewa itu berkata kepada Sang Bhagava dalam syair ini:

Banyak dewa dan manusia, berselisih paham tentang Berkah, yang diharap membawa keselamatan. Terangkanlah, apakah Berkah Utama itu.
……….
Sabar, rendah hati bila diperingatkan, mengunjungi para pertapa, membahas Dhamma pada saat yang sesuai, itulah Berkah Utama.
……….
Karena dengan mengusahakan hal-hal itu, manusia tak terkalahkan di manapun juga, serta berjalan aman ke mana juga, itulah Berkah Utama.

Dengan dasar Sutta inilah kami bergabung bersama Saddha Kirana Family Gathering (SKFG), melakukan perjalanan ke Thailand untuk mengunjungi beberapa pertapa hutan senior (Luang Pu).

Berjalan dengan rapi untuk ber-Pindapatta

Menunggu yang lain 
Vihara Wat Arannavivek – Luang Pu Plien

Kunjungan pertapa pertama kami adalah Vihara Wat Arannavivek – Luang Pu Plien. Dengan membawa berbagai dana makanan, beras , souvenir  dan lainnya, kami menghadap dan memberi hormat pada Luang Pu. Luang Pu Plien menerima kami dengan senang hati, tidak banyak kata–kata yang disampaikan karena beliau sedang sakit dan dokter merekomendasikan untuk tidak terlalu banyak berbicara. Setelah menerima pemberkatan dan foto bersama, kami segera diantar oleh Bhikkhu Pannavajiro, Bhikkhu Indonesia yang berlatih di vihara tersebut ke Hall tempat kami menginap.

Pagi hari nya kami diberikan kesempatan untuk mengikuti para bhikkhu berjalan kaki berkeliling desa untuk menerima dana makanan dari para umat (Pindappatta).  Tanpa alas kaki, para bhikkhu berjalan dengan rapi, kami berjalan mencoba mengikuti langkah mereka dengan tergesa–gesa, sementara para bhikkhu berjalan dengan santainya. 


Tanpa alas kaki Pindapatta dilaksanakan setiap hari

Umat menunggu setiap pagi
Sepanjang perjalanan kami melihat bagaimana para umat berhenti melakukan kegiatannya dan memberi hormat kepada para bhikkhu yang melintas. Tanpa tersadari rasa haru muncul secara tiba–tiba, melihat langkah kaki para bhikkhu tanpa alas dan  bagaimana para umat dengan semangatnya setiap pagi menunggu kedatangan para bhikkhu untuk menerima dana makanan  yang sudah mereka siapkan.

Setelah kembali ke vihara, menerima pemberkatan dan sarapan pagi, kami segera berpamit untuk melanjutkan perjalanan menuju pertapa berikutnya.



Vihara Wat Pu Sangho – Ajahn Wanchai

Kunjungan kedua kami adalah Vihara Wat Pu Sangho – Ajahn Wanchai. Pada vihara kedua ini, kami berkesempatan untuk melihat kehidupan para bhikkhu yang berlatih di areal berbatuan / bergoa.  Setelah menunggu beberapa waktu, kami bertemu dan mendengarkan nasehat dari Ajahn Wanchai.



Mempersiapkan payung tenda
Ajahn dengan gayanya yang simpel, tegas dan lugas berpesan agar kita selalu ingat untuk berlatih meditasi dan menjaga Citta (Batin pikiran).  Di kesempatan ini pula, saya secara pribadi meminta ijin kepada Ajahn untuk dapat medokumentasikan kehidupan bhikkhu hutan lebih dekat lagi selama 1 minggu. Dan Ajahn mengijinkan. Kemudian saya bertanya kembali kepada Ajahn, “Kapan waktu yang tepat untuk saya datang?”  Ajahn menjawab, “RIGHT NOW!” Kami terkejut mendengar jawaban Ajahn yang begitu tegas dan spontannya.

Setelah sesi tanya jawab selesai, kami menyerahkan cinderamata dan dana kepada Ajahn. Kemudian ketika kami meminta ijin untuk dapat foto bersama, Ajahn menjawab, “Sudah di foto tadi, sudah cukup.” Kami pun hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Ajahn yang begitu lugas.

Lalu kami memberi hormat dan pamit untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Jalan menuju Kuti
Vihara Wat Pa Na Kam Noi – Luang Pu Inthawai

Sore menjelang malam kami baru tiba di Vihara Wat Pa Na Kam Noi, sehingga kami tidak berkesempatan untuk bertemu Luang Pu Inthawai. Dan setelah kami menyerahkan dana beras, minyak, gula dan lainnya di dapur vihara, kami diantarkan ke tempat kami menginap oleh salah seorang bhikkhu muda.

Untuk umat pria, kami ditempatkan di 2 buah kuti di dalam hutan yang berjarak sekitar 500 meter dari Dhammasala. Untuk umat wanita, ditempatkan di areal terpisah. Masing–masing kuti menampung 4 orang. Kami harus menyusuri jalan batu dan jalan setapak yang dikelilingi oleh lebatnya pepohonan. Sepanjang perjalanan kami menemukan berbagai binatang seperti ular kecil, monyet, dan jangkrik yang berbunyi dengan nyaringnya.



Kuti pertapa hutan


Kami hanya diberikan lilin untuk penerangan di dalam kuti, beruntung kami membawa senter. Suasana kegelapan yang sangat pekat, hujan yang deras, suara guntur, kilat dan suara binatang di malam hari menambah rasa ketakutan di dalam pikiran kami sendiri.  Dan setelah kami menenangkan pikiran, kami pun tertidur pulas hingga pagi hari.

Hujan rintik menyambut kami di pagi hari, dan kami berkesempatan untuk menyaksikan bagaimana para bhikkhu tetap menjalankan Pindappatta sekalipun hujan semakin deras.

Setelah sarapan pagi, kami akhirnya berkesempatan untuk bertemu dengan Luang Pu Inthawai. Pada kesempatan ini, Luang Pu memberikan Dhamma tentang bagaimana kita semua bisa bertemu dan berkumpul pada hari ini dikarenakan adanya hubungan karma masa lalu di antara kita semua.

ditemani cahaya lilin dan senter

Dan setelah kami memberikan cenderamata, kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali.

Vihara Wat Pa Daeng – Luang Pu Lee

Dalam perjalanan menuju Vihara Wat Tham Sahai, kami terlebih dahulu mengunjungi Vihara Wat Pa Daeng – Luang Pu Lee. Namun karena kondisi Luang Pu yang kurang baik dan harus diisolasikan dalam ruangan kaca, kami hanya dapat melihat Luang Pu dari luar ruangan saja.

Kami kemudian ber namaskara untuk kesehatan Luang Pu dan melanjutkan perjalanan kami.

Tidak lebih tidak kurang

Vihara Wat Tham Sahai – Luang Pu Janrien

Hujan deras dan hari menjelang malam menyambut kedatangan kami di Vihara Wat Tham Sahai – Luang Pu Janrien.  Suasana Vihara cukup menyeramkan karena kami harus menaiki sekitar 100 anak tangga dengan patung ular di kiri kanan nya untuk dapat masuk ke dhammasalla di dalam gua besar. Dan di vihara ini dipasang tanda dilarang foto dimana – mana, bahkan ketika salah satu dari kami mem foto Luang Pu, kami segera diminta dengan hormat untuk menghapus nya dari camera kami.

Ketika kami datang , di saat bersamaan Luang Pu Janrien sedang menerima tamu – tamu lain nya. Dan dikarenakan hari sudah menjelang malam, Luang Pu mempersilahkan kami untuk langsung beristirahat di hall yang telah disiapkan.

Mengambil untuk yang bisa dan dibutuhkan, bukan karena nafsu keinginan

Pada pagi hari kami dipersilahkan untuk sarapan pagi bersama Luang Pu dengan tata cara vihara tersebut, dimana kami dipersilahkan untuk duduk berbaris memanjang, lalu makanan yang telah diletakkan di atas trolly melintas di depan kami secara bergantian. Disini kami belajar untuk mengambil makanan yang kami butuhkan atau yang kami bisa makan, bukan yang kami inginkan, dan mengambil jumlah makanan sesuai dengan kebutuhan. Kami juga diharuskan untuk menggeser troly dengan cepat dan tidak bersuara.

Setelah makan pagi, kami dipersilahkan untuk bertemu Luang Pu Janrien, namun Luang Pu tidak sempat memberikan nasehat dikarenakan masih banyak tamu dan umat yang bertemu di pagi hari itu. Dan setelah kami memberikan cenderamata kepada Luang Pu, tiba – tiba kami dilempari permen oleh salah satu bhikkhu asisten Luang Pu. Ternyata pelemparan permen adalah tata cara pemberkatan yang dilakukan di vihara ini dan kami pun mengumpulkan permen – permen tersebut.


Vihara Wat Doi Dhamma Chedi – Luang Pu Baen

Kami tiba di Vihara Wat Doi Dhamma Chedi – Luang Pu Baen pada sore hari. Dan kami diterima oleh salah satu bhikkhu yang kemudian memberikan kami nasehat dan petunjuk mengenai tata cara untuk kami dapat menginap di vihara ini, dikarenakan Luang Pu Baen pada saat itu tidak berada di tempat, dan diinformasikan bahwa kemungkinan besok pagi kami baru dapat menemuinya.  

menanam jasa baik 

Kami mendapatkan nasehat bahwa “Dana (menanam jasa baik)” yang terbaik bukanlah dengan hanya berkeliling mengunjungi pertapa dengan membawa berbagai dana makanan / uang, tetapi “Dana” yang paling baik adalah menjalankan Sila (5 dasar sila; tidak membunuh, mencuri, berasusila, berbohong, bermabukan)  dan Samadhi (meditasi).  Kami diharuskan menjalankan Silla dan tidak berbicara / bersuara selama menginap di vihara ini. Dan kami juga diharuskan untuk ikut kebaktian malam sebelum istirahat dan kebaktian pagi pada pukul 3 pagi. Kami adalah rombongan pertama yang diijinkan untuk menginap di vihara hutan ini sebagai orang luar yang datang untuk berkunjung (bukan umat yang mengikuti pelatihan), untuk itu kami diharapkan bisa menjaga sikap selama berada di vihara. Kemudian kami dipersilahkan untuk menempati hall yang telah disediakan dan bersiap – siap untuk kebaktian malam.

Pagi ini  kami harus segera bergegas untuk merapikan semua barang – barang kami, dikarenakan jadwal penerbangan kami yang dirubah oleh pihak maskapai dari siang hari menjadi penerbangan pagi hari. Kami hanya memiliki sedikit ruang waktu untuk bertemu Luang Pu dan mengikuti kegiatan Pindapatta.  Di pagi hari ini pun kami masih belum tahu apakah akan berkesempatan untuk bertemu Luang Pu dikarenakan kami masih belum diinformasikan apabila Luang Pu telah kembali ke vihara.

Tidak lama setelah para bhikkhu kembali dari Pindapatta, Luang Pu Baen menemui kami di saat kami akan mempersembahkan dana makanan. Dengan nada bercanda, Luang Pu menyarankan agar kami tinggal di vihara ini selama 2 minggu dikarenakan kondisi asap di Indonesia, dimana udara segar di vihara ini sangat baik untuk kesehatan. Dan ketika kami akan mempersembahkan souvenir dan dana lilin, Luang Pu menolak dana tersebut dan memberikan kami nasehat yang cukup keras. Luang Pu menasehati agar souvenir dan lilin tersebut di taruh dan digunakan di altar kami sendiri untuk mengingatkan diri kami akan pesan Luang Pu, dimana “Dana” yang kami bawa tidaklah berarti, bahkan sangat kecil (sembari menunjukkan kurang dari 1 ruas jari kelingkingnya.) Dana yang dipersembahkan kepada Buddha dan Sangha hendaklah dana yang murni, yaitu dengan menjalankan Sila dan Samadhi.  Beberapa dari kami sempat terkejut mendengar nasehat tajam dari Luang Pu, namun kami hanya bisa diam dan tersenyum.

pindapatta

Tidak lama setelah Luang Pu Baen meninggalkan kami dan masuk ke Dhammasalla, kami pun segera beranjak pergi menuju bandara. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, mungkin beberapa dari kami masih merenungkan nasehat tajam dari Luang Pu.

Vihara Wat Khaoyai Yana – Luang Pu Uthai

Setelah landing di Bangkok dan dengan berkendara mobil selama kurang lebih 2 jam akhirnya kami tiba di akhir perjalanan mengunjungi pertapa, Vihara Wat Khaoyai Yana, Luang Pu Uthai. 

setiap hari aku harus menjaga batin ku
Kami diterima dengan sangat antusias oleh Luang Pu Uthai, bahkan kami juga ditemani oleh penterjemah Luang Pu, Sister Sharron (Toy), yang sangat membantu menterjemahkan dhamma dari Luang Pu. 

Luang Pu mempersilahkan kami untuk beristirahat di ruang bawah Dhammasalla bagi pria, wanita di hall terpisah dari areal pria  dan bersiap – siap untuk ikut kebaktian malam. Setelah kami membersihkan diri dan berbenah, kami pun segera masuk ke ruang Dhammasalla untuk ikut kebaktian. Sempat terbesit dalam pikiran, bagaimana kami dapat membaca paritta yang ditulis dalam bahasa Thai dan ternyata telah disiapkan tempat duduk dan buku paritta dengan penulisan dalam bahasa Inggris untuk rombongan kami agar kami tetap dapat bersama – sama ikut membaca paritta.

Luang Pu Uthai mengisi dhamma sharing pada malam ini dengan sangat khusus, seperti seorang ayah yang mengasihi dan mengayomi, menghimbau agar para bhikkhu dan umat yang berlatih di vihara tersebut  untuk mengembangkan kasih kepada rombongan kami dari Indonesia. Luang Pu melanjutkan dhamma dengan berdialog dan menekankan kepada kami agar giat menjalankan Sila dan Samadhi. Bagaimana Sila dan Samadhi dapat membawa kebahagiaan dan kehidupan akan datang yang lebih baik. Bagaimana perbuatan jahat atau kotor akan membawa kami ke 4 alam sengsara.

dukkha dalam alam derita

tidak lebih tidak kurang
Setelah dhamma sharing, Luang Pu masih berkesempatan untuk membawa kami keliling vihara, melihat bagaimana Luang Pu menaruh ikan – ikan kecil di selokan sekitar vihara agar dapat mengurangi resiko nyamuk dan lainnya.

Pada pagi hari, kami diberikan kesempatan untuk membantu para bhikkhu menyiapkan makanan hasil dari pindapatta. Kami belajar banyak tentang aturan, etika dan tata cara Sangha yang harus dijaga. Salah satu aturan yang kami belajar pada pagi hari itu adalah tentang Kappi. Dimana setiap buah / sayuran berbiji yang akan dipersembahkan kepada bhikkhu harus dipastikan bila biji dari buah tersebut tidak akan tumbuh kembali. Bhikkhu akan bertanya kepada umat, "Kappi yam Karohi?" (Apakah buah ini layak untuk bhikkhu?) Dan umat harus memastikan bila buah tersebut sudah layak dengan menusukkan garpu / merobek buah tersebut dan menjawab, "Kappi yam Bhante". (iya sudah layak).

 Kemudian kami pun diberikan semangkuk nasi dan sendok untuk ritual Pindapatta. Ya, disini kami diajarkan tata cara Pindapatta yang berbeda, dimana dana makanan, semua nya masuk ke dalam dapur dan sebagai ritual kami diberikan semangkuk nasi untuk nantinya dimasukkan ke dalam mangkuk bhikkhu dengan sendok.  Setelah Luang Pu
selesai membacakan doa dan mengambil makanan , kami pun dipersilahkan untuk ikut menikmati makanan yang telah dipersiapkan oleh para relawan dapur.

Kami kembali diberikan kesempatan untuk bertemu dan berbincang – bincang dengan Luang Pu sebelum kami pergi. Dan dalam kesempatan ini Luang Pu Uthai menunjukkan rasa senang hati nya dengan kehadiran kami dari Indonesia, dan berharap untuk dapat bertemu kembali. Kami pun diberikan buku – buku dhamma yang beberapa bahkan sudah ditulis dalam bahasa Indonesia.

Penutup

Demikianlah perjalanan mengunjungi pertapa hutan di Thailand yang kami lakukan bulan lalu. Secara pribadi, saya melihat perjalanan ini seperti telah direncanakan agar kami dapat lebih belajar dan memahami dhamma.

Dimana pada awal sebelum perjalanan ini dimulai, mungkin sebagian dari kami memiliki pemikiran bahwa hanya dengan berdana uang, makanan dan lainnya, bisa mendapatkan berkah yang berlimpah untuk kebahagiaan kehidupan saat ini. Namun dalam perjalanan ini telah memberikan kami banyak pelajaran dan dhamma seperti :

-   Luang Pu Plien – memberikan rasa nyaman dengan menerima awal perjalanan kami dan menghapuskan kekhawatiran – kekhawatiran yang muncul dari pikiran kami sendiri, seperti kondisi hutan, tempat tinggal, makanan dan lainnya. Memberikan kami kesempatan untuk bisa merasakan tugas, perasaan haru dan rasa hormat pada  Pindapatta yang harus dijalankan oleh para bhikkhu.

-        Ajahn Wanchai – tanpa basa basi, lugas dan tegas, SEKARANG- RIGHT NOW! Waktunya untuk kita mulai melatih Samadhi, jangan menunggu dan jangan mencari – cari alasan tapi hendaknya bergiat melatih diri untuk pengembangan diri sendiri sekarang juga. Basa basi ceremonial tidaklah penting, bahkan Luang Pu mengingatkan untuk 24 jam melatih Citta kita.

-       Luang Pu Inthawai – merasakan pengalaman kehidupan isolasi bhikkhu / kesendirian di tengah pekatnya hutan. Dimana seringkali pikiran kita sendiri lah yang menjadi penyebab ketakutan dalam diri kita sendiri.  Bahwa kita semua bisa berkumpul, bertemu dan bersama – sama menjalankan perjalanan ini dikarenakan adanya hubungan karma diantara kita semua.

-       Luang Pu Lee – bahwa pada akhirnya kita semua harus mengalami tua dan kematian, sehingga janganlah kita lupa untuk terus berlatih dan bertumbuh dalam dhamma.

-       Luang Pu Janrien – bahwa ceremonial atau tata cara hanyalah sebuah tata cara, dan dapat dirubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Bahwa dimana saja, di dalam goa / hutan pelatihan diri dapat selalu dikembangkan.

-       Luang Pu Baen – teguran yang sangat tepat untuk kita selalu ingat dan belajar bahwa “Dana” yang murni yang dapat kita persembahkan kepada Buddha dan Sangha adalah dengan giat berlatih Samadhi dan menjalankan Sila untuk pengembangan diri kita sendiri. Dana yang tidak berharap kembali, dana yang penuh keikhlasan. Diingatkan bahwa “berkah utama tidaklah hanya dengan mengunjungi pertapa tetapi juga rendah hati ketika diperingatkan.”

-       Luang Pu Uthai – serasa seperti berpulang kepada seorang ayah yang mengayomi, menyayangi dan menghangatkan dari rasa lelah, kecewa, dan emosi. Namun juga tidak lupa untuk mengingatkan agar kembali ke rumah,  menjaga Sila dan giat berlatih Samadhi.

setiap hari aku berbakti dengan Sila dan Samadhi

Akhir kata, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Saddha Kirana Family Gathering Group yang telah mengijinkan saya untuk ikut serta dalam perjalanan ini, Brother Adi yang telah me-arrange perjalanan ini dengan sangat baik dan Sister Sharron (Toy) yang telah membantu menterjemahkan dan menjelaskan Dhamma kepada kami sehingga kami dapat lebih memahami dhamma dalam perjalanan ini.



Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta

11 komentar:

  1. It's really touching story, I am pretty sure we can learn many things from this.... Specially about Life... "tidak lebih tidak Kurang!"

    BalasHapus
  2. Zenist BudiWidjaja, blh tahu apakah akses ke vihara2 hutan itu mudah dan boleh dilakukan oleh siapa saja ? Thx !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Yoe Yoe,
      Akses nya relatif mudah untuk vihara - vihara ini karena sudah cukup establish dan terkenal. Namun jauh dari akses kendaraan umum, jadi harus sewa kendaraan, dan tempatnya berjauhan atau beda kota antar 1 vihara dengan lain nya. Untuk berkunjung, terbuka untuk umat budhist yang mau berlatih atau berdana. Kalau untuk tinggal , harus membuat janji terlebih dahulu karena dikhawatirkan penuh.

      Hapus